Kamis, 11 Desember 2014
Kehampaan
Jika
Tuhan ijinkan aku berdoa dalam tangis, tesedu dalam kehampaan yang semakin
mengiris. Membelenggu jiwa dan seakan ingin menampik semua senyum maupun tawa.
Namun apakah sanggup, hati ini semakin rapuh, semakin tak berdaya dan semakin
ingin melupakan semua ingatan yang pernah ada. Ingin pergi jauh tanpa adanya
seorangpun yang mengenali. Tetapi apa aku sanggup, apa aku mampu melakukanya,
sedangkan diriku pun tak tahu harus berbuat apa. Aku diam namun tak berfikir,
aku menangis namun tak bergerak, dan aku berteriak namun aku bertahan. Berharap
terhujam ujung masa, meninggalkan semua luka dan sayatan yang mengisi jiwa,
menyisakan tangis yang selama ini selalu menemai mimpi.
Kebimbangan
Rintik hujan pagi menghantarkanku dalam
luka, menembus asa diantara kehampaan dalam lamunan jiwa. mentari yang biasanya
muncul diufuk timur kini seakan malu untuk menyinari, terhalang awan yang
menyelimuti permukaan daratan ini. Tetesan embun terganti dengan air mata,
semakin deras dan tak terasa basah didada. Sapu tangan, itulah yang aku raih
dari tanganmu. Sapu tangan kusam yang selalu ada disela saku bajumu. Sebuah
senyum manis yang menghiasi wajahmu, mengingatkanku pada sosok wanita yang
telah tiada. Sosok wanita yang selalu ada dan menemani hari-hari dalam hampa.
Aku kita dan masa lalu adalah sebuah paket yang selama ini tertanam dalam
ingatanku, kenangan yang tak pernah sedikitpun hilang dari diriku. Ingin hati
menghapusnya, membersihkan setiap sela dari semua itu. Namun tak mampu dan
semakin tak mampu. Hujan yang membasahi semakin hilang dan berganti dengan
sapuan angin, air mata yang semula ada berhenti seakan tak dapat keluar
kembali. Kini mentari pun mencoba bangkit. Mencoba berdiri tegak sejajar dengan
permukaan bumi. Menghangatkan setiap jengkal langkah kaki yang selama ini
tertatih. Namun diri tak mampu setegar mentari, diri hanyalah sebuah rangka
yang terbungkus kulit dan berisi kenangan kecewa. Kekecewaan akan masa lalu,
kekecewaan akan masa depan, dan kekecewaan akan setiap ingatan yang tak kunjung
tergantikan. Memberi bekas tanpa sayatan, mengukir luka tanpa hujaman. Saat
kaki ini berusaha berlari, saat mata ini mulai menatap jeli, hati ini terkulai,
hati ini tak mampu menahan setiap nafas yang terengah karena semua. Selalu dan
selalu teringat. Setiap air mata yang menetes basahi pipi ini, ada doa yang
terlantun dalamnya, untuk mu.. untuk kita.. dan untuk cinta..
Rabu, 10 September 2014
Tuhan
Engkau memberikan segala harapan..
Engkau memberikan setian angan dan impian..
Tak pernah terlewat dalam setiap helai nafas..
Selalu ada dikala hati dan raga terhempas..
Terkadang memberi penghalang..
Namun tak pernah memberi jalan..
Melangkahkan kaki untuk mencari jalan itu sendiri..
Menyibakkan bahu untuk meraih sejuta angan semu..
Wahai Tuhan..
Engkaulah panutan yang agung bagiku..
Engkau memberikan setian angan dan impian..
Tak pernah terlewat dalam setiap helai nafas..
Selalu ada dikala hati dan raga terhempas..
Terkadang memberi penghalang..
Namun tak pernah memberi jalan..
Melangkahkan kaki untuk mencari jalan itu sendiri..
Menyibakkan bahu untuk meraih sejuta angan semu..
Wahai Tuhan..
Engkaulah panutan yang agung bagiku..
Selasa, 27 Mei 2014
Kini Sampah
Sampah..
terasa tak berguna..
sampah..
terasa tak berdaya..
hanya terdiam disudut sepi..
sendiri dan tak lagi bermimpi..
kini..
butir intan tiada berarti..
permata biru tak lagi membelenggu..
hanya sampah yang ada dihati..
tiada lagi cinta yang memberi arti..
terasa tak berguna..
sampah..
terasa tak berdaya..
hanya terdiam disudut sepi..
sendiri dan tak lagi bermimpi..
kini..
butir intan tiada berarti..
permata biru tak lagi membelenggu..
hanya sampah yang ada dihati..
tiada lagi cinta yang memberi arti..
Selasa, 13 Mei 2014
Cinta dan Akhir
Berawal langkah kaki menjemput cinta demi dambaan jiwa, menaiki
mobil bertuliskan AL berwarna merah, menuju terminal disudut bekasi diantara
pinggiran Jakarta, bersama ayah yang mencintai dan selalu menyayangiku,
menghampirimu untuk ikut bersamaku melepaskan rasa rindu yang lama menumpuk
dalam relung hati. Saat itu, masih teringat jelas dirimu menunggu dibawah
sebuah pohon didepan emperan toko, senyum manis menyambut aku dan ayahku,
sebuah ciuman hangat ditangan kamu berikan dengan rasa yang mendalam, aku
begitu bahagia saat itu, hingga mulutku terasa kelu ingin berkata apa pun aku
tak tahu. Akhirnya kita bertiga menuju rumah singgahku dipinggiran bekasi, aku
pegang tanganmu erat saat itu, sebagai ungkapan rasa sayang dan juga rinduku padamu.
Namun, tak beberapa lama setelah kita sampai dirumah mungil itu orang tuamu
menelepon dan menginginkan dirimu segera kembali, aku begitu kecewa, namun aku
tak mampu berbuat apa-apa, aku hanya terdiam dan takut karena semua kata yang
aku dengar itu, akhirnya dengan terpaksa aku hantarkan dirimu menuju terminal
disaat kita bertemu, dengan ditemani hujan aku pulang bersama segala luka yang
ada karena hujatan dan hinaan keluargamu.
Langkah demi langkah
kaki menyadarkanku akan keegoisan diri, mengembalikan semua ingatan akan tujuan
dari hidup dan arti, Sore
menjemput lelahku, mengurung semua luka yang tergores karena cinta, terdiam
diri memandangi mega merah di pinggiran bekasi, menyeberangi jalan melangkah
menuju rumah, disambut dengan senyum-senyum hangat, namun bibirku tak mau
berucap, tak sedikitpun mau tersenyum.
Minggu, 27 April 2014
Tujuh Tahun Lalu
Hari ini tepat tujuh
tahun yang lalu, terakhir kali aku melihat senyum itu, senyum yang sempat
menghiasi hari-hari dalam waktuku. Senyum yang tak lagi ada tanpa dirimu. 26
april 2007, tanggal yang tak pernah hilang dari ingatanku, tanggal dimana hari
itu terjadi, kau pergi dan tak kembali lagi menemani. Sempat hati tak ingin itu
terjadi, menyalahkan waktu dan takdir yang mengalir tanpa bisa dihalangi. Namun
kini aku mulai tersadar, bahwa setiap jalan pasti ada titik akhirnya, setiap
langkah pasti ada titik kelelahan dan setiap nafas pasti ada waktu untuk
mengakhirinya. Kini aku merasa sunyi, merasakan waktu yang sepi tanpa sapaan
lembut itu lagi, tanpamu begitu berat namun aku tahu tanpamu aku mampu lebih kuat.
Aku yakin kamu pasti bahagia disana, bersama semua doa yang terlantun indah
dari kami, dari orang-orang yang menyayangimu, merindukan setiap canda dan
tawamu Eliz...
Langganan:
Postingan (Atom)