Selasa, 27 Mei 2014

Kini Sampah

Sampah..
terasa tak berguna..
sampah..
terasa tak berdaya..
hanya terdiam disudut sepi..
sendiri dan tak lagi bermimpi..
kini..
butir intan tiada berarti..
permata biru tak lagi membelenggu..
hanya sampah yang ada dihati..
tiada lagi cinta yang memberi arti..

Selasa, 13 Mei 2014

Cinta dan Akhir

Berawal langkah kaki menjemput cinta demi dambaan jiwa, menaiki mobil bertuliskan AL berwarna merah, menuju terminal disudut bekasi diantara pinggiran Jakarta, bersama ayah yang mencintai dan selalu menyayangiku, menghampirimu untuk ikut bersamaku melepaskan rasa rindu yang lama menumpuk dalam relung hati. Saat itu, masih teringat jelas dirimu menunggu dibawah sebuah pohon didepan emperan toko, senyum manis menyambut aku dan ayahku, sebuah ciuman hangat ditangan kamu berikan dengan rasa yang mendalam, aku begitu bahagia saat itu, hingga mulutku terasa kelu ingin berkata apa pun aku tak tahu. Akhirnya kita bertiga menuju rumah singgahku dipinggiran bekasi, aku pegang tanganmu erat saat itu, sebagai ungkapan rasa sayang dan juga rinduku padamu. Namun, tak beberapa lama setelah kita sampai dirumah mungil itu orang tuamu menelepon dan menginginkan dirimu segera kembali, aku begitu kecewa, namun aku tak mampu berbuat apa-apa, aku hanya terdiam dan takut karena semua kata yang aku dengar itu, akhirnya dengan terpaksa aku hantarkan dirimu menuju terminal disaat kita bertemu, dengan ditemani hujan aku pulang bersama segala luka yang ada karena hujatan dan hinaan keluargamu.
Langkah demi langkah kaki menyadarkanku akan keegoisan diri, mengembalikan semua ingatan akan tujuan dari hidup dan arti,  Sore menjemput lelahku, mengurung semua luka yang tergores karena cinta, terdiam diri memandangi mega merah di pinggiran bekasi, menyeberangi jalan melangkah menuju rumah, disambut dengan senyum-senyum hangat, namun bibirku tak mau berucap, tak sedikitpun mau tersenyum.