Selasa, 08 Oktober 2013

Sebuah Awal dan Sebuah Akhir


          Pertemuan di sebuah gedung aula yang lumayan besar di salah satu Universitas “yang katanya ternama” menyisakan sebuah kenangan bagiku, diri seperti kembali kemasa lalu disaat dia ada. Hingga kaki menapakkan bekasnya dirumah fikir ini masih tak terhenti untuk berputar dengan senyum dan wajah itu, apakah itu dia? Apa itu titisannya? Huh, otak kosong saat itu, hingga semua tujuan dan keegoisan bergejolak menjadi satu. Hati tak sabar ingin kembali bertemu, harapan selalu menginginkan melihat wajah itu lagi.
 Hingga saat tiba, pertama memasuki ruang kuliah, duduk diantara baris-baris kursi yang berjajar rapi, aku melihat wajah itu untuk kedua kalinya, dan aku melihat senyum kenangan dimasa lalu. Hati terasa bergetar, tangan dan kakiku gemetar, aku tatap mata itu, aku tatap bibir itu, kenapa tak ada yang berbeda darimu, dalam keheningan pagi waktu seakan terhenti, dan kenangan itupun hadir kembali. Mata tak mampu untuk menahan air hingga meneteskan satu persatu rindu dan kerisauan kalbu. Saat dia menatapku, aku palingkan wajah sembari mengingat tatapan itu, sembari menahan gejolak hatiku, aku mencoba untuk tersenyum, dan berani menatap matanya agar aku tahu siapa dirinya.
Akhirnya aku mampu melihat sisi lain dari dirinya, aku mengerti dan faham siapa dia. Dia bukan masa lalu yang selalu aku rindu, dia bukan cinta yang usai namun aku damba, dia adalah dia, dan masa laluku tak akan sama dengan dia, karena hanya sedikit sifat dan sikap yang sama dari mata yang bercerita. Waktu berlalu hingga aku benar-benar tahu dia, kita semakin dekat dan akrab yang awalnya hanya karena sebuah ejekan BEBek dan AYam, hingga waktu membuatku semakin dekat dengannya. Dalam hati tak sedikitpun aku mempunyai rasa melebihi rasa seorang kakak kepada adiknya, rasa ingin menjaga dan melindunginya dari apapun yang akan menyakitinya sampai aku berani menaruh sedikit hidupku didirinya, tak lain agar dia selalu terjaga dalam setiap senyum indahnya. Aku sadar apa yang aku lakukan itu sangat konyol, hal yang seharusnya aku simpan agar aku mampu bertahan malah aku berikan kepadanya, hal yang mampu membuatku tegar aku sisipkan disela jiwanya. Akan tetapi aku lebih takut kehilangan senyum itu dibandingkan nyawa tubuhku, aku lebih takut dia merasakan sakit dibandingkan setiap sakit yang aku lalui. Fikirku “toh aku juga gak akan mungkin normal seperti orang lain, jikapun aku tiada gak akan ada yang mengingatku selain keluargaku, jadi tak apalah aku merasakan semua ini.” Yang terpenting bagiku aku selalu bisa melihat senyum itu walau bukan milikku.
Hari dan hari berlalu dalam hidupku yang baru, namun hampa selalu ada menaungi jiwa yang tak lagi utuh, kekasih hanya damba, bukan sebuah perhatian dan rasa sayang, namun hanya kebetean dan keacuhan yang dia beri, hingga aku berfikir aku tak pantas dia miliki, karena aku tak mampu mebuat hari-harinya penuh senyum. Dan akupun lebih memikirkan dia dibanding kekasihku itu. Sampai pada suatu saat aku menerima sebuah ungkapan rasa kecewa darinya, mengungkapkan rasa cinta yang aku tumbuhkan dihatinya, aku bingung akan hal itu Karena tak sedikitpun aku berharap itu terjadi padanya, aku hanya ingin menjaganya dan melukis senyum diwajahnya, namun ternyata dia terlalu kecewa hingga diapun sedikit membalikkan muka untukku, akupun kembali pada hari tanpa dirinya, disaat luka itu tumbuh dia berkata: “tenang ini tak seperti rasa yang teramat besar, ini hanya rasa biasa yang akan hilang beriringan waktuku.” Tentu saja kata itu tak semata aku percaya, hingga aku mendengar bahwa dia menemukan seseorang yang dapat menjadi sandaran dan kebahagiaan yang selama ini dia cari. Aku merasa bahagia walau dalam relung hati aku merasakan luka yang menyayat dan mengiris, akan tetapi aku sadar, kebahagiaannya itu yang terpenting bagiku, dan kebahagiaan kekasihku juga harus aku wujudkan agar hubunganku tak menjadi rancu akibat keegoisanku.
Tulisan ini hanya sebuah ungkapan kerisauan hati yang tak mampu keluar dari bibir, kata yang tersususn karena hampa dan rasa tak pantas menaungi jiwa. Semoga engkau yang disana selalu tersenyum dan mengingatku, semoga aku mampu memberikan kebahagiaan kepada kekasihku, dan semoga dia benar menemukan apa yang dia damba hingga aku percaya bahwa dia selalu tejaga dan akupun benar-benar rela melepasnya. Sebuah kasih, sebuah sayang dan cinta tak akan melukai jika kita mampu menguasai ego dan emosi. Walau rasa lukapun memenuhi setiap ruang dalam hati. Aku tetap disini.