Kamis, 11 Desember 2014

Kebimbangan

       Rintik hujan pagi menghantarkanku dalam luka, menembus asa diantara kehampaan dalam lamunan jiwa. mentari yang biasanya muncul diufuk timur kini seakan malu untuk menyinari, terhalang awan yang menyelimuti permukaan daratan ini. Tetesan embun terganti dengan air mata, semakin deras dan tak terasa basah didada. Sapu tangan, itulah yang aku raih dari tanganmu. Sapu tangan kusam yang selalu ada disela saku bajumu. Sebuah senyum manis yang menghiasi wajahmu, mengingatkanku pada sosok wanita yang telah tiada. Sosok wanita yang selalu ada dan menemani hari-hari dalam hampa. Aku kita dan masa lalu adalah sebuah paket yang selama ini tertanam dalam ingatanku, kenangan yang tak pernah sedikitpun hilang dari diriku. Ingin hati menghapusnya, membersihkan setiap sela dari semua itu. Namun tak mampu dan semakin tak mampu. Hujan yang membasahi semakin hilang dan berganti dengan sapuan angin, air mata yang semula ada berhenti seakan tak dapat keluar kembali. Kini mentari pun mencoba bangkit. Mencoba berdiri tegak sejajar dengan permukaan bumi. Menghangatkan setiap jengkal langkah kaki yang selama ini tertatih. Namun diri tak mampu setegar mentari, diri hanyalah sebuah rangka yang terbungkus kulit dan berisi kenangan kecewa. Kekecewaan akan masa lalu, kekecewaan akan masa depan, dan kekecewaan akan setiap ingatan yang tak kunjung tergantikan. Memberi bekas tanpa sayatan, mengukir luka tanpa hujaman. Saat kaki ini berusaha berlari, saat mata ini mulai menatap jeli, hati ini terkulai, hati ini tak mampu menahan setiap nafas yang terengah karena semua. Selalu dan selalu teringat. Setiap air mata yang menetes basahi pipi ini, ada doa yang terlantun dalamnya, untuk mu.. untuk kita.. dan untuk cinta..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar