Rabu, 14 Desember 2016
Senin, 29 Desember 2014
Masa Seragam Abu
Teringat masa SMA, masa dimana kita
belajar akan hidup dan kehidupan, masa dimana kita berbagi berbagai rasa dan
tentunya kenangan. Berbagi bersama keluarga diantara keluarga kita. Keluarga
yang selalu ada disetiap waktu kita. Saat itu, adalah saat-saat dimana kenangan
kita terukir. Dulu ketika kita bersama tak sedikitpun ada luka disela hari
kita, tak sedikitpun merasakan sepi yang sekarang ada. Menjalani hari demi hari
dengan seragam abu-abu kita, bermain, belajar, nakal, bandel, dan tentunya
tertawa bersama.
Ingatkah kalian
teman masa itu?
Ingatkan kalian saat
kita bersama meniti ilmu dan waktu kala itu?
Hingga tak terasa
waktu selama 3 tahun berlalu, tak terasa tiba dipenghujung masa untuk berpisah.
Aku sangat mengingat waktu itu, waktu aku bersujud dan meminta mengulangi semua.
Meminta untuk tidak pergi meninggalkan kenangan itu. Namun tak mungkin,
akhirnya kita berpisah. Dan kemudian menjalani
hidup masing-masing. Tanpa kebersamaan lagi. Kawan, jangan lupakan
kenangan dengan seragam abu-abu, jangan lupakan setiap tawa, senyum, sedih dan
sendu bersama. Agar kita mampu tetap bersama bukan dalam dunia nyata. Namun
dalam hati dan kenangan kita. I love u all guys (X1, XI IPA 3, XII IPA 3, N
umumnya kawan semua)
Kamis, 11 Desember 2014
Ibu
Ibu, hari ini aku menangis, bukan karena aku lemah, ataupun cengeng, aku merasakan kebimbangan yang tak tahu arah. kebimbangan akan meninggalkan ataupun tetap bertahan. Ibu, peluklah aku.. dekaplah badanku dan rangkul pundakku yang semakin lelah ini.. agar aku mampu tersadar ibu, tersadar dari segala mimpi yang selama ini bernaung difikiranku, mimpi yang sedetikpun tak pernah hilang dari ingatanku. Hapuslah memori ini jika itu membuatku lebih baik ibu, usaplah keningku jika itu dapat menenangkanku dari segala risauku. Karena hanya ibulah yang mampu membuatku tersenyum dan hanya ibu yang mampu membuatku mengerti akan arah hidupku.
Kehampaan
Jika
Tuhan ijinkan aku berdoa dalam tangis, tesedu dalam kehampaan yang semakin
mengiris. Membelenggu jiwa dan seakan ingin menampik semua senyum maupun tawa.
Namun apakah sanggup, hati ini semakin rapuh, semakin tak berdaya dan semakin
ingin melupakan semua ingatan yang pernah ada. Ingin pergi jauh tanpa adanya
seorangpun yang mengenali. Tetapi apa aku sanggup, apa aku mampu melakukanya,
sedangkan diriku pun tak tahu harus berbuat apa. Aku diam namun tak berfikir,
aku menangis namun tak bergerak, dan aku berteriak namun aku bertahan. Berharap
terhujam ujung masa, meninggalkan semua luka dan sayatan yang mengisi jiwa,
menyisakan tangis yang selama ini selalu menemai mimpi.
Kebimbangan
Rintik hujan pagi menghantarkanku dalam
luka, menembus asa diantara kehampaan dalam lamunan jiwa. mentari yang biasanya
muncul diufuk timur kini seakan malu untuk menyinari, terhalang awan yang
menyelimuti permukaan daratan ini. Tetesan embun terganti dengan air mata,
semakin deras dan tak terasa basah didada. Sapu tangan, itulah yang aku raih
dari tanganmu. Sapu tangan kusam yang selalu ada disela saku bajumu. Sebuah
senyum manis yang menghiasi wajahmu, mengingatkanku pada sosok wanita yang
telah tiada. Sosok wanita yang selalu ada dan menemani hari-hari dalam hampa.
Aku kita dan masa lalu adalah sebuah paket yang selama ini tertanam dalam
ingatanku, kenangan yang tak pernah sedikitpun hilang dari diriku. Ingin hati
menghapusnya, membersihkan setiap sela dari semua itu. Namun tak mampu dan
semakin tak mampu. Hujan yang membasahi semakin hilang dan berganti dengan
sapuan angin, air mata yang semula ada berhenti seakan tak dapat keluar
kembali. Kini mentari pun mencoba bangkit. Mencoba berdiri tegak sejajar dengan
permukaan bumi. Menghangatkan setiap jengkal langkah kaki yang selama ini
tertatih. Namun diri tak mampu setegar mentari, diri hanyalah sebuah rangka
yang terbungkus kulit dan berisi kenangan kecewa. Kekecewaan akan masa lalu,
kekecewaan akan masa depan, dan kekecewaan akan setiap ingatan yang tak kunjung
tergantikan. Memberi bekas tanpa sayatan, mengukir luka tanpa hujaman. Saat
kaki ini berusaha berlari, saat mata ini mulai menatap jeli, hati ini terkulai,
hati ini tak mampu menahan setiap nafas yang terengah karena semua. Selalu dan
selalu teringat. Setiap air mata yang menetes basahi pipi ini, ada doa yang
terlantun dalamnya, untuk mu.. untuk kita.. dan untuk cinta..
Rabu, 10 September 2014
Tuhan
Engkau memberikan segala harapan..
Engkau memberikan setian angan dan impian..
Tak pernah terlewat dalam setiap helai nafas..
Selalu ada dikala hati dan raga terhempas..
Terkadang memberi penghalang..
Namun tak pernah memberi jalan..
Melangkahkan kaki untuk mencari jalan itu sendiri..
Menyibakkan bahu untuk meraih sejuta angan semu..
Wahai Tuhan..
Engkaulah panutan yang agung bagiku..
Engkau memberikan setian angan dan impian..
Tak pernah terlewat dalam setiap helai nafas..
Selalu ada dikala hati dan raga terhempas..
Terkadang memberi penghalang..
Namun tak pernah memberi jalan..
Melangkahkan kaki untuk mencari jalan itu sendiri..
Menyibakkan bahu untuk meraih sejuta angan semu..
Wahai Tuhan..
Engkaulah panutan yang agung bagiku..
Selasa, 27 Mei 2014
Kini Sampah
Sampah..
terasa tak berguna..
sampah..
terasa tak berdaya..
hanya terdiam disudut sepi..
sendiri dan tak lagi bermimpi..
kini..
butir intan tiada berarti..
permata biru tak lagi membelenggu..
hanya sampah yang ada dihati..
tiada lagi cinta yang memberi arti..
terasa tak berguna..
sampah..
terasa tak berdaya..
hanya terdiam disudut sepi..
sendiri dan tak lagi bermimpi..
kini..
butir intan tiada berarti..
permata biru tak lagi membelenggu..
hanya sampah yang ada dihati..
tiada lagi cinta yang memberi arti..
Langganan:
Postingan (Atom)