Engkau memberikan segala harapan..
Engkau memberikan setian angan dan impian..
Tak pernah terlewat dalam setiap helai nafas..
Selalu ada dikala hati dan raga terhempas..
Terkadang memberi penghalang..
Namun tak pernah memberi jalan..
Melangkahkan kaki untuk mencari jalan itu sendiri..
Menyibakkan bahu untuk meraih sejuta angan semu..
Wahai Tuhan..
Engkaulah panutan yang agung bagiku..
Rabu, 10 September 2014
Selasa, 27 Mei 2014
Kini Sampah
Sampah..
terasa tak berguna..
sampah..
terasa tak berdaya..
hanya terdiam disudut sepi..
sendiri dan tak lagi bermimpi..
kini..
butir intan tiada berarti..
permata biru tak lagi membelenggu..
hanya sampah yang ada dihati..
tiada lagi cinta yang memberi arti..
terasa tak berguna..
sampah..
terasa tak berdaya..
hanya terdiam disudut sepi..
sendiri dan tak lagi bermimpi..
kini..
butir intan tiada berarti..
permata biru tak lagi membelenggu..
hanya sampah yang ada dihati..
tiada lagi cinta yang memberi arti..
Selasa, 13 Mei 2014
Cinta dan Akhir
Berawal langkah kaki menjemput cinta demi dambaan jiwa, menaiki
mobil bertuliskan AL berwarna merah, menuju terminal disudut bekasi diantara
pinggiran Jakarta, bersama ayah yang mencintai dan selalu menyayangiku,
menghampirimu untuk ikut bersamaku melepaskan rasa rindu yang lama menumpuk
dalam relung hati. Saat itu, masih teringat jelas dirimu menunggu dibawah
sebuah pohon didepan emperan toko, senyum manis menyambut aku dan ayahku,
sebuah ciuman hangat ditangan kamu berikan dengan rasa yang mendalam, aku
begitu bahagia saat itu, hingga mulutku terasa kelu ingin berkata apa pun aku
tak tahu. Akhirnya kita bertiga menuju rumah singgahku dipinggiran bekasi, aku
pegang tanganmu erat saat itu, sebagai ungkapan rasa sayang dan juga rinduku padamu.
Namun, tak beberapa lama setelah kita sampai dirumah mungil itu orang tuamu
menelepon dan menginginkan dirimu segera kembali, aku begitu kecewa, namun aku
tak mampu berbuat apa-apa, aku hanya terdiam dan takut karena semua kata yang
aku dengar itu, akhirnya dengan terpaksa aku hantarkan dirimu menuju terminal
disaat kita bertemu, dengan ditemani hujan aku pulang bersama segala luka yang
ada karena hujatan dan hinaan keluargamu.
Langkah demi langkah
kaki menyadarkanku akan keegoisan diri, mengembalikan semua ingatan akan tujuan
dari hidup dan arti, Sore
menjemput lelahku, mengurung semua luka yang tergores karena cinta, terdiam
diri memandangi mega merah di pinggiran bekasi, menyeberangi jalan melangkah
menuju rumah, disambut dengan senyum-senyum hangat, namun bibirku tak mau
berucap, tak sedikitpun mau tersenyum.
Minggu, 27 April 2014
Tujuh Tahun Lalu
Hari ini tepat tujuh
tahun yang lalu, terakhir kali aku melihat senyum itu, senyum yang sempat
menghiasi hari-hari dalam waktuku. Senyum yang tak lagi ada tanpa dirimu. 26
april 2007, tanggal yang tak pernah hilang dari ingatanku, tanggal dimana hari
itu terjadi, kau pergi dan tak kembali lagi menemani. Sempat hati tak ingin itu
terjadi, menyalahkan waktu dan takdir yang mengalir tanpa bisa dihalangi. Namun
kini aku mulai tersadar, bahwa setiap jalan pasti ada titik akhirnya, setiap
langkah pasti ada titik kelelahan dan setiap nafas pasti ada waktu untuk
mengakhirinya. Kini aku merasa sunyi, merasakan waktu yang sepi tanpa sapaan
lembut itu lagi, tanpamu begitu berat namun aku tahu tanpamu aku mampu lebih kuat.
Aku yakin kamu pasti bahagia disana, bersama semua doa yang terlantun indah
dari kami, dari orang-orang yang menyayangimu, merindukan setiap canda dan
tawamu Eliz...
Minggu, 05 Januari 2014
sore itu..
Di Sore Itu...
Hujan iringi sore saat hati tak sejalan dengan rasa, terdengar dering hape berbunyi, ku lihat sebuah pesan singkat, berisikan kata permintaan dan keindahan dari seorang insan tersayang. Senyum terpajang dari bibir dan wajahku, berharap pesan itu tak bohong dan memang ditujukan untukku, tak ada jawaban lain hanya kata “iya” yang aku kirimkan, sembari menunggu hujan reda aku bercengkrama dengan beberapa teman diantara bangku kosong dikelas itu. Hingga, waktu menunjukkan setengah lima, hujan yang semula lebat mulai reda, dan mendung yang tadinya hitam mulai memudar warnanya. Terdengar sayup salam, kulihat itu kamu, berbaju biru melangkahkan kaki menuju kearahku. Saat pesan yang kamu kirimkan lewat hape itu kamu ucapkan didepanku, ingin aku jawab, namun ternyata teman disampingku yang lebih dulu menjawabnya, dengan semua kata yang mampu membuat dirimu tertawa, aku hanya bisa terdiam, aku hanya bisa meneteskan air mata dalam senyum resahku. Ternyata pesan itu tak hanya kamu kirimkan kepadaku, tapi juga pada dia yang memang pernah dekat denganmu.
Aku sadari aku memang bodoh, siapa aku dan apa hakku mendapat pesan itu, tentu saja pesan itu bukan apa-apa bagimu, namun pesan itu sesuatu yang dapat mengobati rasa rindu akan perhatianmu. Walaupun rasa itu juga hilang setelah kau pergi meninggalkan kelas itu. Terimakasih atas rasa ini, terimakasih atas semuanya, aku akan diam, dan terus diam, tak akan aku membuka mulut tentang rasa hati ini. Dan tak akan aku ulangi kesalahanku untuk mencintaimu. Karena aku hanya lelaki bodoh yang hanya bisa menghadirkan luka, tanpa bisa mengukir senyum indah diantara indahnya cinta.
By: ichuum...
Hujan iringi sore saat hati tak sejalan dengan rasa, terdengar dering hape berbunyi, ku lihat sebuah pesan singkat, berisikan kata permintaan dan keindahan dari seorang insan tersayang. Senyum terpajang dari bibir dan wajahku, berharap pesan itu tak bohong dan memang ditujukan untukku, tak ada jawaban lain hanya kata “iya” yang aku kirimkan, sembari menunggu hujan reda aku bercengkrama dengan beberapa teman diantara bangku kosong dikelas itu. Hingga, waktu menunjukkan setengah lima, hujan yang semula lebat mulai reda, dan mendung yang tadinya hitam mulai memudar warnanya. Terdengar sayup salam, kulihat itu kamu, berbaju biru melangkahkan kaki menuju kearahku. Saat pesan yang kamu kirimkan lewat hape itu kamu ucapkan didepanku, ingin aku jawab, namun ternyata teman disampingku yang lebih dulu menjawabnya, dengan semua kata yang mampu membuat dirimu tertawa, aku hanya bisa terdiam, aku hanya bisa meneteskan air mata dalam senyum resahku. Ternyata pesan itu tak hanya kamu kirimkan kepadaku, tapi juga pada dia yang memang pernah dekat denganmu.
Aku sadari aku memang bodoh, siapa aku dan apa hakku mendapat pesan itu, tentu saja pesan itu bukan apa-apa bagimu, namun pesan itu sesuatu yang dapat mengobati rasa rindu akan perhatianmu. Walaupun rasa itu juga hilang setelah kau pergi meninggalkan kelas itu. Terimakasih atas rasa ini, terimakasih atas semuanya, aku akan diam, dan terus diam, tak akan aku membuka mulut tentang rasa hati ini. Dan tak akan aku ulangi kesalahanku untuk mencintaimu. Karena aku hanya lelaki bodoh yang hanya bisa menghadirkan luka, tanpa bisa mengukir senyum indah diantara indahnya cinta.
By: ichuum...
Sabtu, 07 Desember 2013
hampa
Dingin malam menembus sukma,
Mengikat baris kata disela celah jiwa,
Tertunduk dalam satu waktu membelenggu, Menghujam hati diantara sunyi..
Tak mampu melawan walau hanya sebuah senyuman..
Tak mampu mencela walau nafas mencoba tuk memaksa..
Hanya diam yg selalu tercipta..
Tanpa keangkuhan diantara sudut mata..
Mengikat baris kata disela celah jiwa,
Tertunduk dalam satu waktu membelenggu, Menghujam hati diantara sunyi..
Tak mampu melawan walau hanya sebuah senyuman..
Tak mampu mencela walau nafas mencoba tuk memaksa..
Hanya diam yg selalu tercipta..
Tanpa keangkuhan diantara sudut mata..
Selasa, 03 Desember 2013
kembali sepi
Sayup suara semakin hilang
Tak lagi nampak indahnya hayalan
Tertegun menguras isi hati
Mencoba mancari lagi sisa cinta ini
Pohon dan burung kembali terdiam
Berduka atas rasa semakin pudar
Kembali pada titik waktuku
Dimana sepi dan sunyi membelenggu
Tak lagi nampak indahnya hayalan
Tertegun menguras isi hati
Mencoba mancari lagi sisa cinta ini
Pohon dan burung kembali terdiam
Berduka atas rasa semakin pudar
Kembali pada titik waktuku
Dimana sepi dan sunyi membelenggu
Langganan:
Postingan (Atom)