Selasa, 13 Mei 2014

Cinta dan Akhir

Berawal langkah kaki menjemput cinta demi dambaan jiwa, menaiki mobil bertuliskan AL berwarna merah, menuju terminal disudut bekasi diantara pinggiran Jakarta, bersama ayah yang mencintai dan selalu menyayangiku, menghampirimu untuk ikut bersamaku melepaskan rasa rindu yang lama menumpuk dalam relung hati. Saat itu, masih teringat jelas dirimu menunggu dibawah sebuah pohon didepan emperan toko, senyum manis menyambut aku dan ayahku, sebuah ciuman hangat ditangan kamu berikan dengan rasa yang mendalam, aku begitu bahagia saat itu, hingga mulutku terasa kelu ingin berkata apa pun aku tak tahu. Akhirnya kita bertiga menuju rumah singgahku dipinggiran bekasi, aku pegang tanganmu erat saat itu, sebagai ungkapan rasa sayang dan juga rinduku padamu. Namun, tak beberapa lama setelah kita sampai dirumah mungil itu orang tuamu menelepon dan menginginkan dirimu segera kembali, aku begitu kecewa, namun aku tak mampu berbuat apa-apa, aku hanya terdiam dan takut karena semua kata yang aku dengar itu, akhirnya dengan terpaksa aku hantarkan dirimu menuju terminal disaat kita bertemu, dengan ditemani hujan aku pulang bersama segala luka yang ada karena hujatan dan hinaan keluargamu.
Langkah demi langkah kaki menyadarkanku akan keegoisan diri, mengembalikan semua ingatan akan tujuan dari hidup dan arti,  Sore menjemput lelahku, mengurung semua luka yang tergores karena cinta, terdiam diri memandangi mega merah di pinggiran bekasi, menyeberangi jalan melangkah menuju rumah, disambut dengan senyum-senyum hangat, namun bibirku tak mau berucap, tak sedikitpun mau tersenyum.

Minggu, 27 April 2014

Tujuh Tahun Lalu

      
     Hari ini tepat tujuh tahun yang lalu, terakhir kali aku melihat senyum itu, senyum yang sempat menghiasi hari-hari dalam waktuku. Senyum yang tak lagi ada tanpa dirimu. 26 april 2007, tanggal yang tak pernah hilang dari ingatanku, tanggal dimana hari itu terjadi, kau pergi dan tak kembali lagi menemani. Sempat hati tak ingin itu terjadi, menyalahkan waktu dan takdir yang mengalir tanpa bisa dihalangi. Namun kini aku mulai tersadar, bahwa setiap jalan pasti ada titik akhirnya, setiap langkah pasti ada titik kelelahan dan setiap nafas pasti ada waktu untuk mengakhirinya. Kini aku merasa sunyi, merasakan waktu yang sepi tanpa sapaan lembut itu lagi, tanpamu begitu berat namun aku tahu tanpamu aku mampu lebih kuat. Aku yakin kamu pasti bahagia disana, bersama semua doa yang terlantun indah dari kami, dari orang-orang yang menyayangimu, merindukan setiap canda dan tawamu Eliz...

            

Minggu, 05 Januari 2014

sore itu..

Di Sore Itu...

Hujan iringi sore saat hati tak sejalan dengan rasa, terdengar dering hape berbunyi, ku lihat sebuah pesan singkat, berisikan kata permintaan dan keindahan dari seorang insan tersayang. Senyum terpajang dari bibir dan wajahku, berharap pesan itu tak bohong dan memang ditujukan untukku, tak ada jawaban lain hanya kata “iya” yang aku kirimkan, sembari menunggu hujan reda aku bercengkrama dengan beberapa teman diantara bangku kosong dikelas itu. Hingga, waktu menunjukkan setengah lima, hujan yang semula lebat mulai reda, dan mendung yang tadinya hitam mulai memudar warnanya. Terdengar sayup salam, kulihat itu kamu, berbaju biru melangkahkan kaki menuju kearahku. Saat pesan yang kamu kirimkan lewat hape itu kamu ucapkan didepanku, ingin aku jawab, namun ternyata teman disampingku yang lebih dulu menjawabnya, dengan semua kata yang mampu membuat dirimu tertawa, aku hanya bisa terdiam, aku hanya bisa meneteskan air mata dalam senyum resahku. Ternyata pesan itu tak hanya kamu kirimkan kepadaku, tapi juga pada dia yang memang pernah dekat denganmu.
 Aku sadari aku memang bodoh, siapa aku dan apa hakku mendapat pesan itu, tentu saja pesan itu bukan apa-apa bagimu, namun pesan itu sesuatu yang dapat mengobati rasa rindu akan perhatianmu. Walaupun rasa itu juga hilang setelah kau pergi meninggalkan kelas itu. Terimakasih atas rasa ini, terimakasih atas semuanya, aku akan diam, dan terus diam, tak akan aku membuka mulut tentang rasa hati ini. Dan tak akan aku ulangi kesalahanku untuk mencintaimu. Karena aku hanya lelaki bodoh yang hanya bisa menghadirkan luka, tanpa bisa mengukir senyum indah diantara indahnya cinta.




By: ichuum...

Sabtu, 07 Desember 2013

hampa

Dingin malam menembus sukma,
Mengikat baris kata disela celah jiwa,
Tertunduk dalam satu waktu membelenggu, Menghujam hati diantara sunyi..
Tak mampu melawan walau hanya sebuah senyuman..
Tak mampu mencela walau nafas mencoba tuk memaksa..
Hanya diam yg selalu tercipta..
Tanpa keangkuhan diantara sudut mata..

Selasa, 03 Desember 2013

kembali sepi

Sayup suara semakin hilang
Tak lagi nampak indahnya hayalan
Tertegun menguras isi hati
Mencoba mancari lagi sisa cinta ini
Pohon dan burung kembali terdiam
Berduka atas rasa semakin pudar
Kembali pada titik waktuku
Dimana sepi dan sunyi membelenggu

Senin, 25 November 2013

Awal di pagi

Saat mata terbuka diantara sejuta tanya, awan menyapa diantara sela jiwa, mampukah ini terlewat begitu saja, ataukah akan melekat dalam dinding hampa. berlalu dalam sepi setiap mimpi yang terjadi, membekas dihati bagiku yang tersentak sepi, sunyi, dan tak pernah berarti, namun, nyawa kan selalu tegap menjaga rasa, hingga tubuhpun tak lagi mampu hadapi rentanya masa.

Rabu, 20 November 2013

Hasrat

Disaat rintik hujan jatuh basahi bumi, angin dingin berhembus selimuti jiwa, cahaya surya mulai tergantikan gelap malam, alunan syair indah kembali menyayat hati, gemerlap bintang tiada terlihat lagi, senyum dalam luka terasa begitu indah didada, tangis sebuah awal dari tawa yang mungkin nanti akan tercipta, akankah berakhir dengan sebuah keikhlasan, ataukah hanya akan menjadi beban dalam perjalanan.. ingin kata terhapus oleh langkah kecil yang berbeda, berharap hidup tak lagi sama dengan apa yang terjadi sebelumnya, namun apakah itu mungkin, sedangkan hati tak ingin semua hilang, tak ingin semua pergi, tak relakan setiap detik tanpa itu semua.. kebimbangan, kebingungan, kejenuhan, itu yang terasa saat ini.. Waktu sisakan sesak dalam aliran darahku, mencekik raga yang mulai renta termakan usia, surya terlihat hanyalah seberkas sinar yang tak berarti lagi, dan nafas tinggalah udara yang mulai meracuni setiap sendi tulangku.. namun senyum masih terpancar indah bersama setiap kenangan yang mengalun indah, tawa dan setiap canda masih tersirat disetiap detik langkahku, aku ingin bebas berlari dan terbang seperti dahulu, aku ingin melankah dalam setiap alunan jiwa yang menanti cinta bagaikan merpati diujung senja.. namun.. tak mungkin kan aku raih bintang indah disetiap malam, tak mungkin aku genggam bulan jingga diujung mataku, hanya tinggalah harapan ini yang terjaga rapi dalam setiap sekat hati.. walaupun tangan ingin menggapai asa dalam hampa dan mata menatap setiap impian yang ada.. tak akan mungkin kuraih semua.. tak akan bisa aku miliki dalam jiwa, karena kini telah tiba waktunya.. tergantikan oleh awal dari arti dunia.. Mencoba berani melangkahkan kaki diantara sunyi dan sepi, merangkul hampa bersama cinta dan setia, berteman sesal dan sebuah rasa kecewa. Ingin bibir ini menjerit keras, berharap mimpi ini akan berakhir indah, namun apakah mungkin akan terwujud, tersujud diri dihadapanmu ya Rabb.. berhiaskan air mata diwajah, bermandikan keluh dan kesah tentang kisah. Tuhan menciptakan 100 keindahan 99 diantaranya selalu disisi-NYA dan 1 diantaranya diturunkan kebumi, kini aku temukan kebahagiaan itu, yaitu kamu, yang selalu ada dalam mimpi dan hariku dalam gelap dan terangku, dalam indah dan dukaq, dalam hati dan jiwaku,