Berawal langkah kaki menjemput cinta demi dambaan jiwa, menaiki
mobil bertuliskan AL berwarna merah, menuju terminal disudut bekasi diantara
pinggiran Jakarta, bersama ayah yang mencintai dan selalu menyayangiku,
menghampirimu untuk ikut bersamaku melepaskan rasa rindu yang lama menumpuk
dalam relung hati. Saat itu, masih teringat jelas dirimu menunggu dibawah
sebuah pohon didepan emperan toko, senyum manis menyambut aku dan ayahku,
sebuah ciuman hangat ditangan kamu berikan dengan rasa yang mendalam, aku
begitu bahagia saat itu, hingga mulutku terasa kelu ingin berkata apa pun aku
tak tahu. Akhirnya kita bertiga menuju rumah singgahku dipinggiran bekasi, aku
pegang tanganmu erat saat itu, sebagai ungkapan rasa sayang dan juga rinduku padamu.
Namun, tak beberapa lama setelah kita sampai dirumah mungil itu orang tuamu
menelepon dan menginginkan dirimu segera kembali, aku begitu kecewa, namun aku
tak mampu berbuat apa-apa, aku hanya terdiam dan takut karena semua kata yang
aku dengar itu, akhirnya dengan terpaksa aku hantarkan dirimu menuju terminal
disaat kita bertemu, dengan ditemani hujan aku pulang bersama segala luka yang
ada karena hujatan dan hinaan keluargamu.
Langkah demi langkah
kaki menyadarkanku akan keegoisan diri, mengembalikan semua ingatan akan tujuan
dari hidup dan arti, Sore
menjemput lelahku, mengurung semua luka yang tergores karena cinta, terdiam
diri memandangi mega merah di pinggiran bekasi, menyeberangi jalan melangkah
menuju rumah, disambut dengan senyum-senyum hangat, namun bibirku tak mau
berucap, tak sedikitpun mau tersenyum.
Selasa, 13 Mei 2014
Minggu, 27 April 2014
Tujuh Tahun Lalu
Hari ini tepat tujuh
tahun yang lalu, terakhir kali aku melihat senyum itu, senyum yang sempat
menghiasi hari-hari dalam waktuku. Senyum yang tak lagi ada tanpa dirimu. 26
april 2007, tanggal yang tak pernah hilang dari ingatanku, tanggal dimana hari
itu terjadi, kau pergi dan tak kembali lagi menemani. Sempat hati tak ingin itu
terjadi, menyalahkan waktu dan takdir yang mengalir tanpa bisa dihalangi. Namun
kini aku mulai tersadar, bahwa setiap jalan pasti ada titik akhirnya, setiap
langkah pasti ada titik kelelahan dan setiap nafas pasti ada waktu untuk
mengakhirinya. Kini aku merasa sunyi, merasakan waktu yang sepi tanpa sapaan
lembut itu lagi, tanpamu begitu berat namun aku tahu tanpamu aku mampu lebih kuat.
Aku yakin kamu pasti bahagia disana, bersama semua doa yang terlantun indah
dari kami, dari orang-orang yang menyayangimu, merindukan setiap canda dan
tawamu Eliz...
Minggu, 05 Januari 2014
sore itu..
Di Sore Itu...
Hujan iringi sore saat hati tak sejalan dengan rasa, terdengar dering hape berbunyi, ku lihat sebuah pesan singkat, berisikan kata permintaan dan keindahan dari seorang insan tersayang. Senyum terpajang dari bibir dan wajahku, berharap pesan itu tak bohong dan memang ditujukan untukku, tak ada jawaban lain hanya kata “iya” yang aku kirimkan, sembari menunggu hujan reda aku bercengkrama dengan beberapa teman diantara bangku kosong dikelas itu. Hingga, waktu menunjukkan setengah lima, hujan yang semula lebat mulai reda, dan mendung yang tadinya hitam mulai memudar warnanya. Terdengar sayup salam, kulihat itu kamu, berbaju biru melangkahkan kaki menuju kearahku. Saat pesan yang kamu kirimkan lewat hape itu kamu ucapkan didepanku, ingin aku jawab, namun ternyata teman disampingku yang lebih dulu menjawabnya, dengan semua kata yang mampu membuat dirimu tertawa, aku hanya bisa terdiam, aku hanya bisa meneteskan air mata dalam senyum resahku. Ternyata pesan itu tak hanya kamu kirimkan kepadaku, tapi juga pada dia yang memang pernah dekat denganmu.
Aku sadari aku memang bodoh, siapa aku dan apa hakku mendapat pesan itu, tentu saja pesan itu bukan apa-apa bagimu, namun pesan itu sesuatu yang dapat mengobati rasa rindu akan perhatianmu. Walaupun rasa itu juga hilang setelah kau pergi meninggalkan kelas itu. Terimakasih atas rasa ini, terimakasih atas semuanya, aku akan diam, dan terus diam, tak akan aku membuka mulut tentang rasa hati ini. Dan tak akan aku ulangi kesalahanku untuk mencintaimu. Karena aku hanya lelaki bodoh yang hanya bisa menghadirkan luka, tanpa bisa mengukir senyum indah diantara indahnya cinta.
By: ichuum...
Hujan iringi sore saat hati tak sejalan dengan rasa, terdengar dering hape berbunyi, ku lihat sebuah pesan singkat, berisikan kata permintaan dan keindahan dari seorang insan tersayang. Senyum terpajang dari bibir dan wajahku, berharap pesan itu tak bohong dan memang ditujukan untukku, tak ada jawaban lain hanya kata “iya” yang aku kirimkan, sembari menunggu hujan reda aku bercengkrama dengan beberapa teman diantara bangku kosong dikelas itu. Hingga, waktu menunjukkan setengah lima, hujan yang semula lebat mulai reda, dan mendung yang tadinya hitam mulai memudar warnanya. Terdengar sayup salam, kulihat itu kamu, berbaju biru melangkahkan kaki menuju kearahku. Saat pesan yang kamu kirimkan lewat hape itu kamu ucapkan didepanku, ingin aku jawab, namun ternyata teman disampingku yang lebih dulu menjawabnya, dengan semua kata yang mampu membuat dirimu tertawa, aku hanya bisa terdiam, aku hanya bisa meneteskan air mata dalam senyum resahku. Ternyata pesan itu tak hanya kamu kirimkan kepadaku, tapi juga pada dia yang memang pernah dekat denganmu.
Aku sadari aku memang bodoh, siapa aku dan apa hakku mendapat pesan itu, tentu saja pesan itu bukan apa-apa bagimu, namun pesan itu sesuatu yang dapat mengobati rasa rindu akan perhatianmu. Walaupun rasa itu juga hilang setelah kau pergi meninggalkan kelas itu. Terimakasih atas rasa ini, terimakasih atas semuanya, aku akan diam, dan terus diam, tak akan aku membuka mulut tentang rasa hati ini. Dan tak akan aku ulangi kesalahanku untuk mencintaimu. Karena aku hanya lelaki bodoh yang hanya bisa menghadirkan luka, tanpa bisa mengukir senyum indah diantara indahnya cinta.
By: ichuum...
Sabtu, 07 Desember 2013
hampa
Dingin malam menembus sukma,
Mengikat baris kata disela celah jiwa,
Tertunduk dalam satu waktu membelenggu, Menghujam hati diantara sunyi..
Tak mampu melawan walau hanya sebuah senyuman..
Tak mampu mencela walau nafas mencoba tuk memaksa..
Hanya diam yg selalu tercipta..
Tanpa keangkuhan diantara sudut mata..
Mengikat baris kata disela celah jiwa,
Tertunduk dalam satu waktu membelenggu, Menghujam hati diantara sunyi..
Tak mampu melawan walau hanya sebuah senyuman..
Tak mampu mencela walau nafas mencoba tuk memaksa..
Hanya diam yg selalu tercipta..
Tanpa keangkuhan diantara sudut mata..
Selasa, 03 Desember 2013
kembali sepi
Sayup suara semakin hilang
Tak lagi nampak indahnya hayalan
Tertegun menguras isi hati
Mencoba mancari lagi sisa cinta ini
Pohon dan burung kembali terdiam
Berduka atas rasa semakin pudar
Kembali pada titik waktuku
Dimana sepi dan sunyi membelenggu
Tak lagi nampak indahnya hayalan
Tertegun menguras isi hati
Mencoba mancari lagi sisa cinta ini
Pohon dan burung kembali terdiam
Berduka atas rasa semakin pudar
Kembali pada titik waktuku
Dimana sepi dan sunyi membelenggu
Senin, 25 November 2013
Awal di pagi
Saat mata terbuka diantara sejuta tanya, awan menyapa diantara sela jiwa, mampukah ini terlewat begitu saja, ataukah akan melekat dalam dinding hampa. berlalu dalam sepi setiap mimpi yang terjadi, membekas dihati bagiku yang tersentak sepi, sunyi, dan tak pernah berarti, namun, nyawa kan selalu tegap menjaga rasa, hingga tubuhpun tak lagi mampu hadapi rentanya masa.
Rabu, 20 November 2013
Hasrat
Disaat rintik hujan jatuh basahi bumi, angin dingin
berhembus selimuti jiwa, cahaya surya mulai tergantikan gelap malam, alunan
syair indah kembali menyayat hati, gemerlap bintang tiada terlihat lagi, senyum
dalam luka terasa begitu indah didada, tangis sebuah awal dari tawa yang
mungkin nanti akan tercipta, akankah berakhir dengan sebuah keikhlasan, ataukah
hanya akan menjadi beban dalam perjalanan.. ingin kata terhapus oleh langkah
kecil yang berbeda, berharap hidup tak lagi sama dengan apa yang terjadi
sebelumnya, namun apakah itu mungkin, sedangkan hati tak ingin semua hilang,
tak ingin semua pergi, tak relakan setiap detik tanpa itu semua.. kebimbangan,
kebingungan, kejenuhan, itu yang terasa saat ini.. Waktu sisakan sesak dalam
aliran darahku, mencekik raga yang mulai renta termakan usia, surya terlihat
hanyalah seberkas sinar yang tak berarti lagi, dan nafas tinggalah udara yang
mulai meracuni setiap sendi tulangku.. namun senyum masih terpancar indah
bersama setiap kenangan yang mengalun indah, tawa dan setiap canda masih
tersirat disetiap detik langkahku, aku ingin bebas berlari dan terbang seperti
dahulu, aku ingin melankah dalam setiap alunan jiwa yang menanti cinta bagaikan
merpati diujung senja.. namun.. tak mungkin kan aku raih bintang indah disetiap
malam, tak mungkin aku genggam bulan jingga diujung mataku, hanya tinggalah
harapan ini yang terjaga rapi dalam setiap sekat hati.. walaupun tangan ingin
menggapai asa dalam hampa dan mata menatap setiap impian yang ada.. tak akan
mungkin kuraih semua.. tak akan bisa aku miliki dalam jiwa, karena kini telah
tiba waktunya.. tergantikan oleh awal dari arti dunia.. Mencoba berani melangkahkan
kaki diantara sunyi dan sepi, merangkul hampa bersama cinta dan setia, berteman
sesal dan sebuah rasa kecewa. Ingin bibir ini menjerit keras, berharap mimpi
ini akan berakhir indah, namun apakah mungkin akan terwujud, tersujud diri
dihadapanmu ya Rabb.. berhiaskan air mata diwajah, bermandikan keluh dan kesah
tentang kisah. Tuhan menciptakan 100 keindahan 99 diantaranya selalu disisi-NYA
dan 1 diantaranya diturunkan kebumi, kini aku temukan kebahagiaan itu, yaitu
kamu, yang selalu ada dalam mimpi dan hariku dalam gelap dan terangku, dalam
indah dan dukaq, dalam hati dan jiwaku,
Langganan:
Postingan (Atom)